Senin, 11 Mei 2020

FENOMENA TA MARBUTHAH DAN TA MAFTUHAH DALAM AL-QUR'AN



FENOMENA TA MARBUTHAH DAN MAFTUHAH DALAM AL-QURAN
Irwan R. Masihu
IAIN Sultan Amai Gorontalo
irwanmasihu97@gmail.com

Abstrak
Dalam menulis bahasa Arab, seorang pembelajar bahasa Arab harus memiliki bekal dan skill khusus dalam menulis huruf-huruf Arab. Agar bisa menulis dengan bagus mereka dibekali materi khat ‘araby, selain diberi bekal menulis bahasa Arab dengan bagus mereka juga dibekali materi agar bisa menulis bahasa Arab dengan benar yaitu materi qawaid al-imla, yang salah satu pembahasaan materinya yaitu kaidah Ta’ Marbuthah dan Ta’ Maftuhah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui materi kaidah khat ‘araby qawaid al-imla. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif. Artinya: yang dianalisis tidak untuk menolak atau menerima hipotesis, melainkan hasil analisis itu berbentuk deskripsi dari materi kaidah yang dijadikan rujukan. Hasil penelitian menunjukkan dengan adanya materi kaidah khat ‘araby qawaid al-imla’ sebagai penunjang mata kuliah yang ditujukan pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab bertujuan secara langsung yaitu agar mahasiswa mampu untuk menulis huruf dan kata secara benar, cepat dan sempurna serta tujuan secara tidak langsung yaitu dari aspek kebahasaan untuk membekali mahasiswa dengan pemikiran-pemikiran, makna-makna, lafal-lafal, serta struktur kalimat baru.
Kata kunci : Ta’ Marbuthah, Ta’ Maftuhah

A. PENDAHULUAN
Keterampilan bahasa Arab mencakup 4 keterampilan yaitu dengan istilah Maharatul Al istima’, Al kalam, Al qira’ah dan Al kitabah. Keempat keterampilan ini saling berkaitan dan saling mendukung satu sama lain, karena dengan menguasai satu keterampilan maka akan mempermudah seseorang untuk menguasai keterampilan yang lain. Adapun fokus pembahasan ini yaitu kepada keterampilan menulis/ Maharatul Al kitabah di dalam bahasa Arab karena dengan adanya pengetahuan tentang kaidah menulis Arab maka kita memperoleh penulisan Arab yang baik dan bagus. Menurut (Rabat, 1989) keterampilan menulis mencakup kaligrafi/khath, dikte/imla’ dan mengarang/ta’bir. Tiga bagian ini merupakan cabang ilmu yang mempunyai teori masing-masing. Khath mempelajari cara memperindah tulisan yang bagus dan benar, Imla’ mempelajari tentang cara menulis huruf yang benar, da Ta’bir mempelajari cara mengungkapkan pikiran melalui tulisan.[1]
Jika kita berbicara tentang imla’, maka selama ini banyak yang menganggap bahwa imla’ itu hanya sekedar mendiktekan kata atau kalimat kepada murid atau mahasiswa, sehingga imla’ tidak mendapat perhatian lebih dan tidak perlu untuk diajarkan, anggapan ini tentu saja keliru. Kebenarannya adalah dikte adalah pengertian imla’ secara sederhana dan hanya bagian aplikasi dari imla’ selain dikte banyak teori yang harus dikuasai sebelumnya. Faktanya tidak semua kata bahasa Arab yang mempunyai bunyi yang sama dengan bentuk tulisan, ada kata yang mempunyai satu bunyi tetapi mempunyai banyak bentuk tulisan dan tidak mungkin semua bentuk tulisan itu benar.
Secara bahasa al-imla’ (الإملاء) berasal dari bahasa Arab berasal dari kata kerja amla> - yumli> - imla>’ yang bermakna menuliskan sesuatu atau perkataan. Sedangkan secara istilah atau definisi, al-Imla’ dapat ditinjau dari beberapa buku yang membahas qawaid dan pembelajaran al-imla’ adalah salah satu disiplin ilmu bahasa Arab tentang dasar tulisan yang benar dan bertujuan konsentrasi pada pena agar terhindarnya dari kekeliruan[2].
Menurut Abdul al Salam Muhammad Harun berpendapat bahwa imla’ :
الإملاء هو فن الرسم, فن له مقومات وأصول راعي القدماء فيها اعتبار شتئ, بعضها يرجع إلى التيسير في رسم الكلمات الشائعة كشيرة الاستعمال, و منها مايقصدبه إزالة الإبهام و اللبس الذي يحدث بين الكلمات المتشابهة, ومنها مايرادبه بيان الأصول التصريفية لكثير من الألفاظ, وهذا متصلأشدا الاتصالبالغر ضالسابق.
Imla’ adalah seni menulis yang mempunyai kaidah/ aturan yang telah ditetapkan oleh ilmuan terdahulu ada yang mengkaji penulisan kata yang sering digunakan, ada yang bertujuan untuk menghilangkan keraguan pada kata yang mempunyai kemiripan, dan ada yang bertujuan untuk menjelaskan asal kata.
Qawaid al-imla’ merupakan mata kuliah dasar yang memberikan bekal pengetahuan pada mahasiswa tentang penulisan bahasa Arab dengan baik dan benar[3]. Serta mata kuliah ini membahas tentang kaidah-kaidah imla’ yang telah disepakati oleh para pakar bahasa Arab, yang meliputi : hijaiyah, lam syamsiyah dan lam qamariyah, ta’maftuhah dan ta marbuthah, menghapus hamzah pada alif lam syamsiyyah atau qamariyah jika masuk padanya huruf lam jar, kata-kata yang diawali dengan huruf lam, hamzah  di awal kata, penulisan hamzah  di tengah kata, penulisan hamzah di akhir kata, alif tanwin nasab, membuang alif, menyambung (washal) sebagian kata, tanda-tanda baca/tarqim, huruf yang dibaca (mantuq), tidak tertulis (maktub), huruf yang tertulis (maktub) tidak dibaca (mantuq), hamzah Ibnu dan Ibnah, ziyadah, ibdal dan hadzfu, idgam  dan  i’lal, dan terakhir empat karakter alif.
Karena masih banyaknya kesalahan penulisan bahasa Arab pada tugas kuliah mahasiswa seperti makalah dan lembar-lembar ujian lainnya yang tidak sesuai dengan kaidah maka fenomena di atas menarik perhatian peneliti untuk meninjau masalah ini lebih lanjut. Namun peneliti hanya memfokuskan pembahasan satu kaidah saja yaitu pada fenomena kaidah Ta’ Marbuthah dan Ta’ Maftuhah dalam al-Qur’an. Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat membantu mahasiswa menguasai bahasa Arab baik yang ada di al-Qur’an ataupun tidak secara teoritis dan praktis. Serta dapat mengetahui berapa kata ta’ marbuthah dan ta’ maftuhah yang terdapat dalam Al-Qur’an.

B. PEMBAHASAN
1.  Pengertian dan Kaidah
Ta’ Marbuthah (ة)
التاء المربرطة و هِيَتُنْطُقُ ءًمثل التَاء المفتوحة و يُمْكِنُ أيْضًا أنْتَنْطِقَهَا هاءً وتُنْطِقُهَا ءًعند و صْلِهَا بِمِلبَعْدهَا عِنْدَ الوقْف عَلَيهَا. وَلَا بُدَّ مِن وَضْعِ النُقْطَتَيْنِ فَوْقَهَا كَيْ لَاتَلْتَبِسَ لِهَاء الأصلية.
Ta’ Marbuthah adalah ta’ yang dibaca seperti ta’ maftuhah, ta’ ini dibaca ha> Ketika diwaqaf (berhenti), namun juga diwashal maka tetap dibaca ta seperti ta maftuhah, dari segi bentuknya ta marbuthah harus dibubuhi dua titik, hal ini untuk membedakannya dengan huruf ha> asli.[4]
Ta’ Marbuthah disebut juga dengan Ha’ mati bila sukun. Dibaca Ta’ bila berharakat fathah, dhommah dan kasrah.
Ta’ ini biasanya untuk menunjukkan kata perempuan (mu’annas), huruf ta’ ini apabila dibaca wasal dengan kata yang sesudahnya tidak berubah, tetapi apabila berhenti maka akan dibaca dengan huruf ha’, seperti kalimat .طالبة رأيت  kata طالبة ta’ marbuthah di akhirnya dibaca dengan huruf ha’ karena wakaf, jika tidak wakaf huruf ta’ tetap dibaca sebagaimana bunyinya yang sesuai dengan i’rab katanya dalam kalimat yaitu mansub maka ta’ fathah bertanwin.[5]
Kaidah Ta’ Marbuthah biasanya ditulis pada beberapa kategori :
              a.     Nama perempuan /Muannats Hakiki, kata-kata terdiri dari lebih tiga huruf tidak sukun ditengahnya dan dia kata tunggal menunjukkan perempuan (isim muannats mufrad), seperti: فاطمة.
             b.     Isim muannats maja>zi> seperti: الاخِرة
              c.     Isim muannats lafdzi, tapi hakikatnya mudzakkar, seperti:  حَمْزَة
             d.     Jamak taksir/ jamak tak beraturan, yaitu bentuk kata yang menyatakan banyak tetapi tidak beraturan, seperti: قُضَاة.
Ta’ Maftuhah (ت)
التاء المفتوحة تُنتق ءً في الوصْل و في الوقف و هي : ءالأصلِيّة التي في اخر الكلمة سواء أكانت فِعلَا أم اسما.
Ta’ Maftuhah adalah ta’ terbuka (ت) yang dibaca ta’ dengan kalimat setelahnya baik ketika bersambung (washal) ataupun ketika berhenti (waqaf), ta’ ini disebut dengan ta’ asli, yang terletak di akhir suau kata, baik pada kata kerja maupun kata benda.
Ta’ Maftuhah dibaca ta’, bila berharakat fathah, dhommah dan kasrah. Bentuk huruf ini tetap tidak berubah, walaupun berharakat sukun ditulis ت. [6]
Kaidah ta’maftuhah biasanya ditulis pada beberapa kategori :
1.    Ta’ Dhami>r Mutakallim (جِئْتُ جِئْتَ جِئْتِ)
2.    Ta Ta’nits/ ta yang menunjukkan perempuan (لتْق)
3.    Ta Jamak Muannats Salim (القا نتلت الصالحات)
4.    Ta Asli yang merupakan unsur utama pada sebuah kata (لات -– ماتت- ثبت). 
2.  Data Beserta  Contoh Ta’ Marbuthah dan Ta’ Maftuhah
 Ta’ Marbuthah
No
Data
Contoh
1.
رحمة
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ     ﱞ ﱟ ﱡ ﱢ  ﱣ آل عمران: ١٥٩
2.
نعمة
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﱡ  ﱢ ﱣ ﱤ ﱥ الصافات: ٥٧
3.
للاخرة
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ الضحى: ٤

Ta’ Maftuhah
No
Contoh Kata
Data
1.     
رحمت
ﭐﱡﭐ     البقرة: ٢١٨
2.
نعمت
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ     ﱞ  ﱠ ﱡ ﱢ ﱣ     ﱠ البقرة: ٢٣١
3.
سنت
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ     ﲿ   فاطر: ٤٣
4.
ابنت
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ     ﲿ   ﱠ التحريم: ١٢
5.
شجرت
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﱞ ﱟ  ﱠ الدخان: ٤٣
6.
امرات
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ   آل عمران: ٣٥
7.
قرت عين
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﱿ   القصص: ٩
8.
بقيت
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ   هود: ٨٦
9.
فطرت
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ       الروم: ٣٠
10.
لعنت
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ   ﲿ     ﱠ آل عمران: ٦١
11.
جنت
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﱿ الواقعة: ٨٩
12.
معصيت
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ   ﱿ       المجادلة: ٨
13.
كلمت
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ   الأنعام: ١١٥

3.  Penjelasan Ta’ Marbuthah dan Ta’ Maftuhah dalam Al-Qur’an
Ta’ Marbuthah
1.      Kata رحمة  dalam bentuk ta’ marbuthah dalam kaidah Jamak Taksir terdapat dalam al-Qur’an hanya pada QS. Ali Imran: 159.
2.      Kata نعمة dalam bentuk ta’ marbuthah dalam kaidah Jamak Taksir terdapat dalam al-Qur’an hanya pada QS. As-Saffat: 57.
3.      Kata للاخرة dalam bentuk ta’ marbuthah dalam kaidah Isim Muannats Maja>zi> terdapat dalam al-Qur’an hanya pada QS. Ad-Duha : 3.

Ta’ Maftuhah
1.    Kata-kata رحمت dalam al-Qur’an seluruhnya berjumlah 78 kata dan yang ditulis dengan ta’ maftuhah terdapat di 6 surah. Pada contoh di atas hanya satu surah saja yang disebutkan sedangkan 5 surah diantaranya terdapat pada : QS. Al-A’raf: 56, QS Az-Zukhruf: 32, QS. Hud: 73, QS. Maryam: 02, QS. Ar-Rum: 50. Pada kata tersebut sebenarnya menggunakan Kaidah ta’ marbuthah namun jika disandarkan kepada kata Allah atau rabb maka menggunakan kaidah ta’ maftuhah.
2.    Kata-kata نعمت dalam al-Qur’an seluruhnya berjumlah 33 kata dan yang ditulis dengan Ta’ Maftuhah terdapat di 11 surah. Pada contoh di atas hanya satu surah saja yang disebutkan sedangkan 10 diantaranya terdapa pada : QS. Ali Imran: 103, QS. Al-Maidah: 11, QS.Ibrahim: 28, QS. Ibrahim: 34, QS. Fatir: 3, QS. Luqman: 31, QS. An-Nahl : 72, QS. An-Nahl ; 83, QS. At-Thur: 29 dan QS. An-Nahl : 114. Pada kata tersebut sebenarnya menggunakan Kaidah ta’ marbuthah namun jika disandarkan kepada kata Allah atau rabb maka menggunakan kaidah ta’ maftuhah.
3.    Kata-kata سنت dalam Al-Qur’an berjumlah 13 kata dan yang ditulis dengan ta’ maftuhah terdapat pada 4 surah. 3 surah diantaranya : QS. Fatir : 43 (2 kata), QS. Al-Anfal: 38, dan QS. Al-Mu’min: 85.
4.    Kata ابنت ditulis dengan ta’maftuhah hanya terdapat pada surah yang ada pada contoh di atas.
5.    Kata شجرت dalam Al-Qur’an berjumlah 18 kata tetapi yang ditulis dengan ta’ maftuhah hanya terdapat pada surah yang ada pada contoh di atas.
6.    Kata امرت dalam Al-Qur’an berjumlah 11 buah. Yang ditulis dengan ta’ maftuhah terdapat pada 3 surah. 2 surah diantaranya : QS. Yusuf : 51, QS. Yusuf : 30, QS. At-Tahrim: 10-11. Pada kata tersebut sebenarnya menggunakan Kaidah ta’ marbuthah namun jika disandarkan kepada kata suami maka ta’ ditulis dalam bentuk ta’ maftuhah.
7.    Kata قرت عين dalam Al-Qur’an berjumlah 3 kata dan yang ditulis dengan ta’ maftuhah hanya terdapat pada contoh di atas saja.
8.    Kata بقيت dalam Al-Qur’an berjumlah 3 kata dan yang ditulis dengan ta’ maftuhah hanya terdapat pada contoh di atas saja.
9.    Kata فطرت dalam Al-Qur’an hanya ditulis satu kali saja yaitu hanya dalam bentuk ta’ maftuhah yang terdapat pada contoh di atas.
10.    Kata لعنت  dalam Al-Qur’an berjumlah 13 kata tetapi yang ditulis dalam bentuk ta’ maftuhah hanya terdapat pada 2 surah 1 surah yang telah disebutkan di atas dan satunya lagi pada QS. An-Nur: 7. Pada kata tersebut sebenarnya menggunakan Kaidah ta’ marbuthah namun jika disandarkan kepada kata Allah atau rabb maka menggunakan kaidah ta’ maftuhah.
11.    Kata جنت dalam Al-Qur’an berjumlah 66 kata namun yang ditulis dalam bentuk ta’ maftuhah hanya ada pada surah yang telah disebutkan pada contoh di atas.
12.     Kata معصيت dalam Al-Qur’an yang ditulis dengan ta’ maftuhah hanya ada pada 1 surah saja  namun dalam 2 ayat.
13.     Kata كلمت dalam Al-Qur’an berjumlah 26 kata namun yang ditulis dalam bentuk ta’ maftuhah hanya pada 2 surah saja 1 surah yang telah disebutkan pada contoh dan satunya lagi pada QS. Al-Mu’min: 6.

4. Hasil Analisis
Dalam Al-Qur'an terdapat banyak contoh kalimat yang mengandung ta’ marbutah dan ta’ maftuhah, sebagaimana yang telah disebutkan oleh penulis di atas. Namun yang menarik perhatian yaitu terdapat beberapa kalimat yang ditulis dengan ta’ marbutah dan ta’ maftuhah. Misalnya kata رحمة, نعمة dan lain-lain  yang ditulis dengan ta’ maftuhah.
Sebagaimana yang telah diketahui bersama, bahwa alasan utama dari tulisan-tulisan di atas bahwa penulisan Al Quran merupakan wahyu tauqifi yang diterima oleh para sahabat dari Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi para ulama telah memberikan beberapa alasan lain selain akasan utama tersebut. Mari kita menganalisa beberapa contoh.
Kata رحمة dan نعمة ditulis dengan dua cara, dengan ta’ marbutah dan ta’ maftuhah. Ditulis dengan ta’ maftuhah ketika dia pada posisi mudhaf, sedangkan ditulis dengan ta’ marbutah jika dia dalam posisi selain itu.
Hal lainnya yaitu ketika kedua kalimat tersebut ditulis dengan ta’ marbutah maka boleh bagi pembaca untuk berhenti pada kalimat tersebut dengan membaca huruf ha sukun, namun jika kata tersebut bertuliskan denga ta’ maftuhah maka tidak bisa berhenti pada kalimat tersebut karena dia mudhaf. Begitu juga dengan kalimat kalimat lainnya.
Oleh karenanya, para ulama mengeluarkan sebuah kaidah imla' dari Al Quran mengenai penulisan kalimat yang diakhiri dengan ta’ marbutah atau ta’ maftuhah. Kaidah itu berbunyi "Jika kalimat tersebut tidak dalam posisi mudhaf maka dia ditulis dengan ta’ marbutah. Adapun jika posisi kalimat tersebut dalam posisi mudhaf maka ia dapat dituliskan dengan keduanya".








C. KESIMPULAN
1.    Ta’ Marbuthah adalah ta’ yang dibaca seperti ta’ maftuhah, ta’ ini dibaca ha> Ketika diwaqaf (berhenti), namun juga diwashal maka tetap dibaca ta seperti ta maftuhah. Sedangkan Ta’ Maftuhah adalah ta’ terbuka (ت) yang dibaca ta’ dengan kalimat setelahnya baik ketika bersambung (washal) ataupun ketika berhenti (waqaf), ta’ ini disebut dengan ta’ asli, yang terletak di akhir suau kata, baik pada kata kerja maupun kata benda.
2.    Ta’ Maftuhah dan Ta’ Marbuthah dapat diketahui diberbagai macam tempat, seperti: Ta’ yang terletak pada isim muannats mufrad, jamak taksir, masdar dan lain-lain.
3.    Ta’ Marbuthah dalam al-Qur’an terdapat pada 3 kata sedangkan Ta’ Maftuhah dalam al-Qur’an terdapat pada 13 kata.












DAFTAR PUSTAKA
Abdul Aziz S Syamsu Nahar, Mardianto. "DESAIN PEMBELAJARAN IMLA’DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS TULISAN ARAB BAGI SANTRI DI PONDOK PESANTREN AR-RAUDLATUL HASANAH MEDAN." EDU-RILIGIA: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam dan Keagamaan 1.4 (2017).
Hula, Ibnu Rawandhy N. QAWAID AL-IMLA WA AL-KHAT: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab dan Seni Kaligrafi. IAIN Sultan Amai Gorontalo, 2016.
JAUHARI, H. QOMI AKIT. "PEMBELAJARAN QOWAID AL-IMLAK DI JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB (PBA) UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG." Prosiding Konfererensi Nasional Bahasa Arab 1.1 (2015).
Muhsin Amir, Muhammad. Rumus-Rumus Penulisan Kalimat Arab, Pon. Pes. Annuqayah Daerah Al-Amir Guluk-Guluk Semenap Madura (2009).
Putri, Neli. "PROBLEMATIKA MENULIS BAHASA ARAB." Al-Ta lim Journal 19.2 (2012).
Rahmi, Novita. "Pengembangan Materi Qawa’id Imla’Sebagai Penunjang Mata Kuliah Kitabah I (Studi pada Mahasiswa Jurusan PBA Fakultas Tarbiyah IAIN Metro)." An Nabighoh: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Arab 20.01 (2018).






[1]Novita Rahmi, ‘SEBAGAI PENUNJANG MATA KULIAH KITABAH I ( Studi Pada Mahasiswa Jurusan PBA Fakultas Tarbiyah IAIN Metro )’, 20.01 (2016).
[2]Abdul Aziz Sebayang and Syamsu Nahar, ‘Desain Pembelajaran Imla’ Dalam Meningkatkan Kemampuan Munulis Tulisan Arab Bagi Santri Di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Medan’, Edu Riligia: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Dan Keagamaan, 1.4 (2017), 573–88 <https://doi.org/https://scholar.google.com/citations?user=lvj2TL0AAAAJ&hl=id>.
[3]Bahasa Arab and others, ‘PEMBELAJARAN QOWAID AL-IMLAK DI JURUSAN PENDIDIKAN’, 318–24.
[4]Qawaid Al-Imla ’ Wa Al-Khat 1.
[5]Neli Putri, ‘Problematika Menulis Bahasa Arab’, Al-Ta Lim, 19.2 (2012), 173 <https://doi.org/10.15548/jt.v19i2.19>.
[6]Muhammad Muhsin Amir, Rumus-Rumus Penulisan Kalimat Arab, Pon. Pes. Annuqayah Daerah Al-Amir Guluk-Guluk Semenap Madura (2009).