FENOMENA TA MARBUTHAH DAN MAFTUHAH
DALAM AL-QURAN
Irwan R. Masihu
IAIN Sultan Amai Gorontalo
irwanmasihu97@gmail.com
Abstrak
Dalam menulis bahasa Arab, seorang pembelajar
bahasa Arab harus memiliki bekal dan skill khusus dalam menulis huruf-huruf
Arab. Agar bisa menulis dengan bagus mereka dibekali materi khat ‘araby,
selain diberi bekal menulis bahasa Arab dengan bagus mereka juga dibekali
materi agar bisa menulis bahasa Arab dengan benar yaitu materi qawaid
al-imla, yang salah satu pembahasaan materinya yaitu kaidah Ta’
Marbuthah dan Ta’ Maftuhah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
materi kaidah khat ‘araby qawaid al-imla. Penelitian ini merupakan
penelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif. Artinya: yang
dianalisis tidak untuk menolak atau menerima hipotesis, melainkan hasil
analisis itu berbentuk deskripsi dari materi kaidah yang dijadikan rujukan.
Hasil penelitian menunjukkan dengan adanya materi kaidah khat ‘araby qawaid
al-imla’ sebagai penunjang mata kuliah yang ditujukan pada mahasiswa
Jurusan Pendidikan Bahasa Arab bertujuan secara langsung yaitu agar mahasiswa
mampu untuk menulis huruf dan kata secara benar, cepat dan sempurna serta
tujuan secara tidak langsung yaitu dari aspek kebahasaan untuk membekali
mahasiswa dengan pemikiran-pemikiran, makna-makna, lafal-lafal, serta struktur
kalimat baru.
Kata kunci : Ta’
Marbuthah, Ta’ Maftuhah
A. PENDAHULUAN
Keterampilan
bahasa Arab mencakup 4 keterampilan yaitu dengan istilah Maharatul Al
istima’, Al kalam, Al qira’ah dan Al kitabah. Keempat keterampilan ini
saling berkaitan dan saling mendukung satu sama lain, karena dengan menguasai
satu keterampilan maka akan mempermudah seseorang untuk menguasai keterampilan
yang lain. Adapun fokus pembahasan ini yaitu kepada keterampilan menulis/ Maharatul
Al kitabah di dalam bahasa Arab karena dengan adanya pengetahuan tentang
kaidah menulis Arab maka kita memperoleh penulisan Arab yang baik dan bagus.
Menurut (Rabat, 1989) keterampilan menulis mencakup kaligrafi/khath,
dikte/imla’ dan mengarang/ta’bir. Tiga bagian ini merupakan
cabang ilmu yang mempunyai teori masing-masing. Khath mempelajari cara
memperindah tulisan yang bagus dan benar, Imla’ mempelajari tentang cara
menulis huruf yang benar, da Ta’bir mempelajari cara mengungkapkan
pikiran melalui tulisan.[1]
Jika
kita berbicara tentang imla’, maka selama ini banyak yang menganggap
bahwa imla’ itu hanya sekedar mendiktekan kata atau kalimat kepada murid
atau mahasiswa, sehingga imla’ tidak mendapat perhatian lebih dan tidak
perlu untuk diajarkan, anggapan ini tentu saja keliru. Kebenarannya adalah
dikte adalah pengertian imla’ secara sederhana dan hanya bagian aplikasi
dari imla’ selain dikte banyak teori yang harus dikuasai sebelumnya.
Faktanya tidak semua kata bahasa Arab yang mempunyai bunyi yang sama dengan
bentuk tulisan, ada kata yang mempunyai satu bunyi tetapi mempunyai banyak
bentuk tulisan dan tidak mungkin semua bentuk tulisan itu benar.
Secara
bahasa al-imla’ (الإملاء) berasal dari bahasa Arab berasal dari kata
kerja amla> - yumli> - imla>’ yang bermakna menuliskan sesuatu atau
perkataan. Sedangkan secara istilah atau definisi, al-Imla’ dapat ditinjau dari
beberapa buku yang membahas qawaid dan pembelajaran al-imla’ adalah salah satu
disiplin ilmu bahasa Arab tentang dasar tulisan yang benar dan bertujuan
konsentrasi pada pena agar terhindarnya dari kekeliruan[2].
Menurut
Abdul al Salam Muhammad Harun berpendapat bahwa imla’ :
الإملاء هو فن الرسم, فن له
مقومات وأصول راعي القدماء فيها اعتبار شتئ, بعضها يرجع إلى التيسير في رسم
الكلمات الشائعة كشيرة الاستعمال, و منها مايقصدبه إزالة الإبهام و اللبس الذي
يحدث بين الكلمات المتشابهة, ومنها مايرادبه بيان الأصول التصريفية لكثير من
الألفاظ, وهذا متصلأشدا الاتصالبالغر ضالسابق.
Imla’ adalah
seni menulis yang mempunyai kaidah/ aturan yang telah ditetapkan oleh ilmuan
terdahulu ada yang mengkaji penulisan kata yang sering digunakan, ada yang
bertujuan untuk menghilangkan keraguan pada kata yang mempunyai kemiripan, dan
ada yang bertujuan untuk menjelaskan asal kata.
Qawaid
al-imla’ merupakan mata kuliah dasar yang memberikan bekal pengetahuan pada
mahasiswa tentang penulisan bahasa Arab dengan baik dan benar[3]. Serta
mata kuliah ini membahas tentang kaidah-kaidah imla’ yang telah disepakati oleh
para pakar bahasa Arab, yang meliputi : hijaiyah, lam syamsiyah dan
lam qamariyah, ta’maftuhah dan ta marbuthah, menghapus hamzah pada
alif lam syamsiyyah atau qamariyah jika masuk padanya huruf lam
jar, kata-kata yang diawali dengan huruf lam, hamzah di awal kata, penulisan hamzah di tengah kata, penulisan hamzah di
akhir kata, alif tanwin nasab, membuang alif, menyambung (washal)
sebagian kata, tanda-tanda baca/tarqim, huruf yang dibaca (mantuq),
tidak tertulis (maktub), huruf yang tertulis (maktub) tidak
dibaca (mantuq), hamzah Ibnu dan Ibnah, ziyadah, ibdal dan
hadzfu, idgam dan i’lal, dan terakhir empat karakter alif.
Karena
masih banyaknya kesalahan penulisan bahasa Arab pada tugas kuliah mahasiswa
seperti makalah dan lembar-lembar ujian lainnya yang tidak sesuai dengan kaidah
maka fenomena di atas menarik perhatian peneliti untuk meninjau masalah ini
lebih lanjut. Namun peneliti hanya memfokuskan pembahasan satu kaidah saja
yaitu pada fenomena kaidah Ta’ Marbuthah dan Ta’ Maftuhah dalam al-Qur’an.
Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat membantu mahasiswa menguasai
bahasa Arab baik yang ada di al-Qur’an ataupun tidak secara teoritis dan
praktis. Serta dapat mengetahui berapa kata ta’ marbuthah dan ta’
maftuhah yang terdapat dalam Al-Qur’an.
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian dan Kaidah
Ta’ Marbuthah (ة)
التاء المربرطة و هِيَتُنْطُقُ ءًمثل التَاء
المفتوحة و يُمْكِنُ أيْضًا أنْتَنْطِقَهَا هاءً وتُنْطِقُهَا ءًعند و صْلِهَا
بِمِلبَعْدهَا عِنْدَ الوقْف عَلَيهَا. وَلَا بُدَّ مِن وَضْعِ النُقْطَتَيْنِ
فَوْقَهَا كَيْ لَاتَلْتَبِسَ لِهَاء الأصلية.
Ta’
Marbuthah adalah ta’ yang dibaca seperti ta’ maftuhah,
ta’ ini dibaca ha> Ketika diwaqaf (berhenti), namun juga diwashal
maka tetap dibaca ta seperti ta maftuhah, dari segi bentuknya ta
marbuthah harus dibubuhi dua titik, hal ini untuk membedakannya dengan huruf
ha> asli.[4]
Ta’ Marbuthah disebut juga dengan Ha’ mati bila
sukun. Dibaca Ta’ bila berharakat fathah, dhommah dan kasrah.
Ta’ ini biasanya untuk
menunjukkan kata perempuan (mu’annas), huruf ta’ ini apabila dibaca wasal
dengan kata yang sesudahnya tidak berubah, tetapi apabila berhenti maka akan
dibaca dengan huruf ha’, seperti kalimat .طالبة
رأيت kata طالبة ta’ marbuthah di akhirnya dibaca dengan huruf ha’
karena wakaf, jika tidak wakaf huruf ta’ tetap dibaca sebagaimana bunyinya yang
sesuai dengan i’rab katanya dalam kalimat yaitu mansub maka ta’ fathah
bertanwin.[5]
Kaidah
Ta’ Marbuthah biasanya ditulis pada beberapa kategori :
a. Nama perempuan /Muannats Hakiki, kata-kata
terdiri dari lebih tiga huruf tidak sukun ditengahnya dan dia kata tunggal
menunjukkan perempuan (isim muannats mufrad), seperti: فاطمة.
b. Isim muannats maja>zi> seperti: الاخِرة
c. Isim muannats lafdzi, tapi hakikatnya
mudzakkar, seperti: حَمْزَة
d. Jamak taksir/ jamak tak beraturan, yaitu bentuk
kata yang menyatakan banyak tetapi tidak beraturan, seperti: قُضَاة.
Ta’ Maftuhah (ت)
التاء المفتوحة تُنتق ءً في الوصْل و في الوقف
و هي : ءالأصلِيّة التي في اخر الكلمة سواء أكانت فِعلَا أم اسما.
Ta’ Maftuhah adalah ta’ terbuka (ت) yang dibaca ta’ dengan kalimat setelahnya baik ketika bersambung
(washal) ataupun ketika berhenti (waqaf), ta’ ini disebut dengan ta’ asli, yang
terletak di akhir suau kata, baik pada kata kerja maupun kata benda.
Ta’
Maftuhah dibaca ta’, bila berharakat fathah, dhommah dan kasrah. Bentuk huruf
ini tetap tidak berubah, walaupun berharakat sukun ditulis ت.
[6]
Kaidah ta’maftuhah biasanya ditulis pada beberapa kategori
:
1.
Ta’ Dhami>r Mutakallim (جِئْتُ
جِئْتَ جِئْتِ)
2.
Ta Ta’nits/ ta yang menunjukkan
perempuan (لتْق)
3.
Ta Jamak Muannats Salim (القا
نتلت الصالحات)
4.
Ta Asli yang merupakan unsur utama pada
sebuah kata (لات -– ماتت- ثبت).
2. Data
Beserta Contoh Ta’ Marbuthah dan Ta’
Maftuhah
Ta’ Marbuthah
No
|
Data
|
Contoh
|
1.
|
رحمة
|
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﱉ ﱊ ﱋ ﱌ ﱍ ﱎﱏ ﱐ ﱑ ﱒ ﱓ ﱔ ﱕ ﱖ ﱗﱘ ﱙ ﱚ ﱛ ﱜ ﱝ ﱞ ﱟﱠ ﱡ ﱢ ﱣ ﱤ ﱥﱦ ﱧ ﱨ ﱩ ﱪ ﱫ ﱠ آل عمران: ١٥٩
|
2.
|
نعمة
|
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﱟ ﱠ ﱡ ﱢ ﱣ ﱤ ﱥ ﱠ الصافات: ٥٧
|
3.
|
للاخرة
|
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﲅ ﲆ ﲇ ﲈ ﲉ ﲊ ﱠ الضحى: ٤
|
Ta’ Maftuhah
No
|
Contoh
Kata
|
Data
|
1.
|
رحمت
|
ﭐﱡﭐ ﲟ ﲠ ﲡ ﲢ ﲣ ﲤ ﲥ ﲦ ﲧ ﲨ ﲩ ﲪ ﲫﲬ ﲭ ﲮ ﲯ ﲰ ﱠ البقرة: ٢١٨
|
2.
|
نعمت
|
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﱁ ﱂ ﱃ ﱄ ﱅ ﱆ ﱇ ﱈ ﱉ ﱊﱋ ﱌ ﱍ ﱎ ﱏﱐ ﱑ ﱒ ﱓ ﱔ ﱕ ﱖﱗ ﱘ ﱙ ﱚ ﱛ ﱜﱝ ﱞ ﱟ ﱠ ﱡ ﱢ
ﱣ ﱤ ﱥ ﱦ ﱧ ﱨ ﱩﱪ ﱫ ﱬ ﱭ ﱮ ﱯ ﱰ ﱱ ﱲ ﱳ ﱠ البقرة: ٢٣١
|
3.
|
سنت
|
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﲬ ﲭ ﲮ ﲯ ﲰﲱ ﲲ ﲳ ﲴ ﲵ ﲶ ﲷﲸ ﲹ ﲺ ﲻ ﲼ ﲽﲾ ﲿ ﳀ ﳁ ﳂ ﳃﳄ ﳅ ﳆ ﳇ ﳈ ﳉ ﳊ ﱠ فاطر: ٤٣
|
4.
|
ابنت
|
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﲵ ﲶ ﲷ ﲸ ﲹ ﲺ ﲻ ﲼ ﲽ ﲾ ﲿ ﳀ ﳁ ﳂ ﳃ ﳄ ﳅ ﳆ ﱠ التحريم: ١٢
|
5.
|
شجرت
|
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﱜ ﱝ ﱞ ﱟ ﱠ الدخان: ٤٣
|
6.
|
امرات
|
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﲑ ﲒ ﲓ ﲔ ﲕ ﲖ ﲗ ﲘ ﲙ ﲚ ﲛ ﲜ ﲝ ﲞﲟ ﲠ ﲡ ﲢ ﲣ ﲤ ﱠ آل عمران: ٣٥
|
7.
|
قرت
عين
|
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﱶ ﱷ ﱸ ﱹ ﱺ ﱻ ﱼﱽ ﱾ ﱿ ﲀ ﲁ ﲂ ﲃ ﲄ ﲅ ﲆ ﲇ ﲈ ﲉ ﱠ القصص: ٩
|
8.
|
بقيت
|
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﲇ ﲈ ﲉ ﲊ ﲋ ﲌ ﲍﲎ ﲏ ﲐ ﲑ ﲒ ﲓ ﱠ هود: ٨٦
|
9.
|
فطرت
|
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﲣ ﲤ ﲥ ﲦﲧ ﲨ ﲩ ﲪ ﲫ ﲬ ﲭﲮ ﲯ ﲰ ﲱ ﲲﲳ ﲴ ﲵ ﲶ ﲷ ﲸ ﲹ ﲺ ﲻ ﲼ ﱠ الروم: ٣٠
|
10.
|
لعنت
|
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﲯ ﲰ ﲱ ﲲ ﲳ ﲴ ﲵ ﲶ ﲷ ﲸ ﲹ ﲺ ﲻ ﲼ ﲽ ﲾ ﲿ ﳀ ﳁ ﳂ ﳃ ﳄ ﳅ ﳆ ﳇ ﳈ ﱠ آل عمران: ٦١
|
11.
|
جنت
|
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﱿ ﲀ ﲁ ﲂ ﲃ ﱠ الواقعة: ٨٩
|
12.
|
معصيت
|
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﱴ ﱵ ﱶ ﱷ ﱸ ﱹ ﱺ ﱻ ﱼ ﱽ ﱾ ﱿ ﲀ ﲁ ﲂ ﲃ ﲄﲅ ﲆ ﲇ ﲈ ﲉ ﲊ ﲋ ﲌ ﲍ ﲎ ﲏ ﲐ ﲑ ﲒ ﲓ ﲔ ﲕﲖ ﲗ ﲘ ﲙﲚ ﲛ ﲜ ﲝ ﱠ المجادلة: ٨
|
13.
|
كلمت
|
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﲚ ﲛ ﲜ ﲝ ﲞﲟ ﲠ ﲡ ﲢﲣ ﲤ ﲥ ﲦ ﲧ ﱠ الأنعام: ١١٥
|
3. Penjelasan Ta’ Marbuthah dan Ta’ Maftuhah dalam
Al-Qur’an
Ta’ Marbuthah
1.
Kata رحمة dalam bentuk ta’ marbuthah dalam kaidah
Jamak Taksir terdapat dalam al-Qur’an hanya pada QS. Ali Imran: 159.
2.
Kata نعمة dalam
bentuk ta’ marbuthah dalam kaidah Jamak Taksir terdapat dalam al-Qur’an hanya
pada QS. As-Saffat: 57.
3.
Kata للاخرة dalam bentuk ta’ marbuthah dalam kaidah
Isim Muannats Maja>zi> terdapat dalam al-Qur’an hanya pada QS. Ad-Duha :
3.
Ta’ Maftuhah
1.
Kata-kata
رحمت dalam al-Qur’an seluruhnya berjumlah 78 kata dan yang ditulis
dengan ta’ maftuhah terdapat di 6 surah. Pada contoh di atas hanya satu surah
saja yang disebutkan sedangkan 5 surah diantaranya terdapat pada : QS.
Al-A’raf: 56, QS Az-Zukhruf: 32, QS. Hud: 73, QS. Maryam: 02, QS. Ar-Rum: 50.
Pada kata tersebut sebenarnya menggunakan Kaidah ta’ marbuthah namun jika
disandarkan kepada kata Allah atau rabb maka menggunakan kaidah ta’ maftuhah.
2.
Kata-kata
نعمت dalam al-Qur’an seluruhnya berjumlah 33 kata dan yang ditulis
dengan Ta’ Maftuhah terdapat di 11 surah. Pada contoh di atas hanya satu surah
saja yang disebutkan sedangkan 10 diantaranya terdapa pada : QS. Ali Imran:
103, QS. Al-Maidah: 11, QS.Ibrahim: 28, QS. Ibrahim: 34, QS. Fatir: 3, QS.
Luqman: 31, QS. An-Nahl : 72, QS. An-Nahl ; 83, QS. At-Thur: 29 dan QS. An-Nahl
: 114. Pada kata tersebut sebenarnya menggunakan Kaidah ta’ marbuthah namun
jika disandarkan kepada kata Allah atau rabb maka menggunakan kaidah ta’
maftuhah.
3.
Kata-kata
سنت dalam Al-Qur’an berjumlah 13 kata dan yang ditulis dengan ta’
maftuhah terdapat pada 4 surah. 3 surah diantaranya : QS. Fatir : 43 (2 kata),
QS. Al-Anfal: 38, dan QS. Al-Mu’min: 85.
4.
Kata ابنت ditulis dengan ta’maftuhah
hanya terdapat pada surah yang ada pada contoh di atas.
5.
Kata شجرت dalam Al-Qur’an berjumlah
18 kata tetapi yang ditulis dengan ta’ maftuhah hanya terdapat pada surah yang
ada pada contoh di atas.
6.
Kata امرت dalam Al-Qur’an berjumlah
11 buah. Yang ditulis dengan ta’ maftuhah terdapat pada 3 surah. 2 surah
diantaranya : QS. Yusuf : 51, QS. Yusuf : 30, QS. At-Tahrim: 10-11. Pada kata
tersebut sebenarnya menggunakan Kaidah ta’ marbuthah namun jika disandarkan
kepada kata suami maka ta’ ditulis dalam bentuk ta’ maftuhah.
7.
Kata قرت عين dalam Al-Qur’an berjumlah
3 kata dan yang ditulis dengan ta’ maftuhah hanya terdapat pada contoh di atas
saja.
8.
Kata بقيت dalam Al-Qur’an berjumlah
3 kata dan yang ditulis dengan ta’ maftuhah hanya terdapat pada contoh di atas
saja.
9.
Kata فطرت dalam Al-Qur’an hanya
ditulis satu kali saja yaitu hanya dalam bentuk ta’ maftuhah yang terdapat pada
contoh di atas.
10.
Kata لعنت dalam Al-Qur’an berjumlah
13 kata tetapi yang ditulis dalam bentuk ta’ maftuhah hanya terdapat pada 2
surah 1 surah yang telah disebutkan di atas dan satunya lagi pada QS. An-Nur:
7. Pada kata tersebut sebenarnya menggunakan Kaidah ta’ marbuthah namun jika
disandarkan kepada kata Allah atau rabb maka menggunakan kaidah ta’ maftuhah.
11.
Kata جنت dalam Al-Qur’an berjumlah
66 kata namun yang ditulis dalam bentuk ta’ maftuhah hanya ada pada surah yang
telah disebutkan pada contoh di atas.
12.
Kata معصيت dalam Al-Qur’an yang
ditulis dengan ta’ maftuhah hanya ada pada 1 surah saja namun dalam 2 ayat.
13.
Kata كلمت dalam Al-Qur’an berjumlah 26 kata namun yang ditulis dalam
bentuk ta’ maftuhah hanya pada 2 surah saja 1 surah yang telah disebutkan pada
contoh dan satunya lagi pada QS. Al-Mu’min: 6.
4. Hasil
Analisis
Dalam
Al-Qur'an terdapat banyak contoh kalimat yang mengandung ta’ marbutah
dan ta’ maftuhah, sebagaimana yang telah disebutkan oleh penulis di
atas. Namun yang menarik perhatian yaitu terdapat beberapa kalimat yang ditulis
dengan ta’ marbutah dan ta’ maftuhah. Misalnya kata رحمة,
نعمة dan
lain-lain yang ditulis dengan ta’
maftuhah.
Sebagaimana
yang telah diketahui bersama, bahwa alasan utama dari tulisan-tulisan di atas
bahwa penulisan Al Quran merupakan wahyu tauqifi yang diterima oleh para
sahabat dari Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi para ulama telah memberikan
beberapa alasan lain selain akasan utama tersebut. Mari kita menganalisa
beberapa contoh.
Kata رحمة dan نعمة ditulis dengan dua cara,
dengan ta’ marbutah dan ta’ maftuhah. Ditulis dengan ta’
maftuhah ketika dia pada posisi mudhaf, sedangkan ditulis dengan ta’
marbutah jika dia dalam posisi selain itu.
Hal
lainnya yaitu ketika kedua kalimat tersebut ditulis dengan ta’ marbutah maka
boleh bagi pembaca untuk berhenti pada kalimat tersebut dengan membaca huruf ha
sukun, namun jika kata tersebut bertuliskan denga ta’ maftuhah
maka tidak bisa berhenti pada kalimat tersebut karena dia mudhaf. Begitu
juga dengan kalimat kalimat lainnya.
Oleh
karenanya, para ulama mengeluarkan sebuah kaidah imla' dari Al Quran mengenai
penulisan kalimat yang diakhiri dengan ta’ marbutah atau ta’ maftuhah.
Kaidah itu berbunyi "Jika kalimat tersebut tidak dalam posisi mudhaf
maka dia ditulis dengan ta’ marbutah. Adapun jika posisi kalimat
tersebut dalam posisi mudhaf maka ia dapat dituliskan dengan
keduanya".
C. KESIMPULAN
1.
Ta’
Marbuthah adalah ta’ yang dibaca seperti ta’ maftuhah,
ta’ ini dibaca ha> Ketika diwaqaf (berhenti), namun juga diwashal
maka tetap dibaca ta seperti ta maftuhah. Sedangkan Ta’ Maftuhah adalah ta’ terbuka (ت) yang dibaca ta’ dengan kalimat setelahnya baik ketika bersambung
(washal) ataupun ketika berhenti (waqaf), ta’ ini disebut dengan ta’ asli, yang
terletak di akhir suau kata, baik pada kata kerja maupun kata benda.
2.
Ta’
Maftuhah dan Ta’ Marbuthah dapat diketahui
diberbagai macam tempat, seperti: Ta’ yang terletak pada isim muannats
mufrad, jamak taksir, masdar dan lain-lain.
3.
Ta’ Marbuthah dalam al-Qur’an terdapat pada 3 kata
sedangkan Ta’ Maftuhah dalam al-Qur’an terdapat pada 13 kata.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul Aziz S Syamsu
Nahar, Mardianto. "DESAIN PEMBELAJARAN IMLA’DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN
MENULIS TULISAN ARAB BAGI SANTRI DI PONDOK PESANTREN AR-RAUDLATUL HASANAH
MEDAN." EDU-RILIGIA: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam dan Keagamaan 1.4
(2017).
Hula, Ibnu Rawandhy
N. QAWAID AL-IMLA WA AL-KHAT: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab
dan Seni Kaligrafi. IAIN Sultan Amai Gorontalo, 2016.
JAUHARI, H. QOMI
AKIT. "PEMBELAJARAN QOWAID AL-IMLAK DI JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
(PBA) UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG." Prosiding Konfererensi
Nasional Bahasa Arab 1.1 (2015).
Muhsin Amir, Muhammad. Rumus-Rumus
Penulisan Kalimat Arab, Pon. Pes. Annuqayah Daerah Al-Amir Guluk-Guluk Semenap
Madura (2009).
Putri, Neli.
"PROBLEMATIKA MENULIS BAHASA ARAB." Al-Ta lim Journal 19.2
(2012).
Rahmi, Novita.
"Pengembangan Materi Qawa’id Imla’Sebagai Penunjang Mata Kuliah Kitabah I
(Studi pada Mahasiswa Jurusan PBA Fakultas Tarbiyah IAIN Metro)." An
Nabighoh: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Arab 20.01 (2018).
[1]Novita Rahmi, ‘SEBAGAI PENUNJANG MATA KULIAH KITABAH I ( Studi Pada
Mahasiswa Jurusan PBA Fakultas Tarbiyah IAIN Metro )’, 20.01 (2016).
[2]Abdul Aziz Sebayang and Syamsu Nahar, ‘Desain Pembelajaran Imla’ Dalam
Meningkatkan Kemampuan Munulis Tulisan Arab Bagi Santri Di Pondok Pesantren
Ar-Raudlatul Hasanah Medan’, Edu Riligia:
Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Dan Keagamaan, 1.4 (2017), 573–88
<https://doi.org/https://scholar.google.com/citations?user=lvj2TL0AAAAJ&hl=id>.
[5]Neli Putri, ‘Problematika Menulis Bahasa Arab’, Al-Ta Lim, 19.2 (2012), 173
<https://doi.org/10.15548/jt.v19i2.19>.